GEOGRAFI

Secara geografis Kota Bandar Lampung terletak pada 50 20’ sampai dengan 50 30’ lintang selatan dan 1050 28’ sampai dengan 1050 37’ bujur timur. Letak tersebut berada pada Teluk Lampung di ujung selatan pulau Sumatera. Berdasarkan kondisi ini, Kota Bandar Lampung menjadi pintu gerbang utama pulau Sumatera tepatnya kurang lebih 165 km sebelah barat laut Jakarta dan memiliki peran sangat penting selain dalam kedudukannya sebagai ibu kota Provinsi Lampung juga merupakan pusat pendidikan, kebudayaan dan perekonomian bagi masyarakat. Secara administratif batas daerah Kota Bandar Lampung adalah:

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran dan Kecamatan Ketibung serta Teluk Lampung.
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gedong Tataan dan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan.

  Selain daripada itu, Kota Bandar Lampung memiliki andil yang sangat vital dalam jalur transportasi darat dan aktivitas pendistribusian logistik dari Jawa menuju Sumatera maupun sebaliknya serta memiliki Pelabuhan Panjang untuk kegiatan ekspor impor dan Pelabuhan Srengsem yang melayani distribusi batubara dari Sumatera ke Jawa , sehingga secara langsung Kota Bandar Lampung berkontribusi dalam mendukung pergerakan ekonomi nasional. Kota Bandar Lampung memiliki luas wilayah  197,22 km²  yang terbagi  ke dalam 13 Kecamatan dan 98 Kelurahan dengan populasi penduduk 879.651 jiwa (berdasarkan sensus 2010), kepadatan penduduk sekitar 8.142 jiwa/km² dan diproyeksikan pertumbuhan penduduk mencapai 1,8 juta jiwa pada tahun 2030.    

 

TOPOGRAFI

Topografi Kota Bandar Lampung sangat beragam, mulai dari dataran pantai sampai kawasan perbukitan hingga bergunung, dengan ketinggian permukaan antara 0 sampai 500 m daerah dengan topografi perbukitan hinggga bergunung membentang dari arah Barat ke Timur dengan puncak tertinggi pada Gunung Betung sebelah Barat dan Gunung Dibalau serta perbukitan Batu Serampok disebelah Timur. Topografi tiap-tiap wilayah di Kota Bandar Lampung adalah sebagai berikut :

  • Wilayah pantai terdapat disekitar Teluk Betung dan Panjang dan pulau di bagian Selatan
  • Wilayah landai/dataran terdapat disekitar Kedaton dan Sukarame di bagian Utara
  • Wilayah perbukitan terdapat di sekitar Telukbetung bagian Utara
  • Wilayah dataran tinggi dan sedikit bergunung terdapat disekitar Tanjung Karang bagian Barat yaitu wilayah Gunung Betung, dan Gunung Dibalau serta perbukitan Batu Serampok di bagian Timur.

Dilihat dari ketinggian yang dimiliki, Kecamatan Kedaton dan Rajabasa merupakan wilayah dengan ketinggian paling tinggi dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya yaitu berada pada ketinggian maksimum 700 mdpl. Sedangkan Kecamatan Teluk Betung Selatan dan Kecamatan Panjang memiliki ketinggian masing-masing hanya sekitar 2 – 5 mdpl atau kecamatan dengan ketinggian paling rendah/minimum dari seluruh wilayah di Kota Bandar Lampung.  

 

HIDROLOGI

Dilihat secara hidrologi maka Kota Bandar Lampung mempunyai 2 sungai besar yaitu Way Kuripan dan Way Kuala, dan 23 sungai-sungai kecil. Semua sungai tersebut merupakan DAS (Daerah Aliran Sungai) yang berada dalam wilayah Kota Bandar Lampung dan sebagian besar bermuara di Teluk Lampung. Dilihat dari akuifer yang dimilikinya, air tanah di Kota Bandar Lampung dapat dibagi dalam beberapa bagian berdasarkan pourusitas dan permaebilitas yaitu:

  • Akuifer dengan produktifitas sedang, berada di kawasan pesisir Kota Bandar Lampung, yaitu di Kecamatan Panjang, Teluk Betung Selatan, dan Teluk Betung Barat.
  • Air tanah dengan akuifer produktif, berada di Kecamatan Kedaton, Tanjung Senang, Kedaton, bagian selatan Kecamatan Kemiling, bagian selatan Tanjung Karang Barat, dan sebagian kecil wilayah Kecamatan Sukabumi.
  • Akuifer dengan produktifitas sedang dan penyebaran luas, berada di bagian utara Kecamatan Kemiling, bagian utara Tanjung Karang Barat, Tanjung Karang Pusat, Teluk Betung Utara, dan sebagian kecil Kecamatan Tanjung Karang Timur.
  • Akuifer dengan produktifitas tinggi dan penyebaran luas, berada di sebagian besar Kecamatan Rajabasa dan Tanjung Karang Timur.
  • Akuifer dengan produktifitas rendah, berada di bagian utara Kecamatan Panjang, Tanjung Karang Timur, dan bagian barat Kecamatan Teluk Betung Selatan.
  • Air tanah langka, berada di Kecamatan Panjang.

  Zonasi Kawasan Resapan Air Kota Bandar Lampung terbagi ke dalam 6 wilayah, sebagai berikut :

ZONA

KATEGORI RESAPAN

WILAYAH

I

Recharge Area

Kemiling dan Teluk Betung Barat

II

Area Penyangga

Kecamatan Tanjung Karang Barat, Tanjung Karang Timur, Panjang, Tanjung Karang Pusat, Teluk Betung Utara, dan Teluk Betung Selatan.

III

Resapan Rendah

Kedaton, Sukarame, Tanjung Karang Barat

IV

Resapan Sedang

Tanjung Karang Pusat, Sukabumi, Tanjung Karang Timur

V

Resapan Tinggi

Sukabumi dan Sukarame

VI

Kawasan Dipengaruhi Air Laut

Pesisir Teluk Lampung, Teluk Betung Selatan, Panjang, Teluk Betung Barat

Sumber: Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPPLH) Bandar Lampung, 2010  

 

 

POTENSI KOTA BANDAR LAMPUNG

 

A. Kota Yang Prospektif

Kota Bandar Lampung memiliki prospek yang kuat untuk berkembang menjadi kota besar dalam skala regional, nasional, bahkan internasional. Potensi kota Bandar Lampung yang mendukung antara lain adalah

(1) Lokasi geografis yang sangat strategis,

(2) Kedudukan yang dituju dalam kebijaksanaan tingkat nasional dan regional,

(3) Pemandangan alam yang indah yang dapat dimanfaatkan untuk menarik wisatawan,

(4) Keanekaragaman suku bangsa (multi ethnic), dan

(5) Dukungan wilayah sekitarnya (hinterland) yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan kota Bandar Lampung.

Berbagai potensi yang dimiliki Bandar Lampung serta hinterland-nya, yang sebagian telah diakomodasikan dalam kebijaksanaan dan rencana baik lingkup nasional, regional maupun lokal, menggambarkan masa depan kota Bandar Lampung yang prospektif.

Antisipasi yang bersifat proaktif menjadi kebutuhan utama dalam mendorong dan mengendalikan perkembangan kota Bandar Lampung, di mana tidak lagi memadai apabila dalam menyongsong tahun 2015 semata mengandalkan kecenderungan perkembangan kota Bandar Lampung secara berdiri sendiri sehingga perlu didorong menuju kondisi yang kompetitif, baik pada skala internasional, nasional, maupun regional.

Posisi geografis mengantar Bandar Lampung untuk meraih peluang menjadi salah satu pusat pertumbuhan yang berperan dalam sistem ekonomi regional IMS-GT maupun menjadi bagian dari koridor kegiatan ekonomi Indonesia yang terbesar, yaitu Sumatera Selatan – Lampung – Banten – Jabotabek. Dalam konstelasi ruang perekonomian tersebut, Bandar Lampung berpeluang mengisi fungsi-fungsi ekonomi secara selektif dan kompetitif, terutama dalam sistem pusat-pusat pertumbuhan yang ada.

Peningkatan akses yang strategis bagi aliran barang adalah melalui pengembangan Pelabuhan Panjang. Pelabuhan ini yang diharapkan menjadi pelabuhan ekspor-impor terbesar di Sumatera bagian Selatan harus memanfaatkan peluang dari limpahan daya tampung Tanjung Priok, bahkan menciptakan pelayanan yang bersaing dengan Pelabuhan Bojonegara dan Palembang hingga menjadi alternatif pilihan bagi aliran barang ke dan dari negara lain.

Dalam sektor ekonomi, kota Bandar Lampung memiliki peluang yang besar untuk memantapkan diri menjadi pusat perdagangan dan jasa pada skala Sumatera bagian Selatan.

Sejalan dengan aktifitas ekspor-impor dan perdagangan antar-pulau, Bandar Lampung memiliki peluang untuk menjadi pusat perdagangan hasil pertanian dan industri dari Sumatera bagian Selatan maupun yang didatangkan dari daerah luar. Hinterland Bandar Lampung pada waktu ini telah berperan sebagai pemasok hasil perkebunan, peternakan dan perikanan yang diunggulkan, terutama komoditi gula, kopi, lada, kelapa, daging segar dan udang.

Juga terlihat kecenderungan tumbuhnya kegiatan agroindustri menuju sentra agroindustri andalan di pulau Sumatera. Hal ini memberikan peluang bagi Bandar Lampung untuk menyediakan fasilitas perdagangan dan jasa bisnis seperti perbankan, perkantoran, dan sebagainya.  

Sektor lainnya yang prospektif bagi Bandar Lampung adalah pariwisata, baik dalam rangka menunjang pembangunan pariwisata di Sumatera bagian Selatan maupun mendayagunakan potensi keindahan alam Bandar Lampung.

Pengembangan obyek wisata pantai dan laut serta perbukitan dalam kota Bandar Lampung menciptakan daya tarik bagi wisatawan mancanegara maupun nusantara. Kelengkapan yang dapat dipersiapkan oleh Bandar Lampung adalah penyediaan prasarana dan jasa pariwisata seperti perhotelan, agen perjalanan, perbankan, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Berbagai peluang perkembangan yang prospektif juga membawa prasyarat agar kehidupan kota yang diharapkan dapat tercapai. Pertama adalah restrukturisasi trend perkembangan fisik dan kedua adalah penciptaan iklim yang kondusif bagi perkembangan kota Bandar Lampung.

Selain penyediaan prasarana dan sarana pendukung kegiatan ekonomi; penyiapan kebijaksanaan, peraturan, dan program pembangunan menuju pemantapan Bandar Lampung dalam memanfaatkan peluang ekonomi yang ada;  perlu disiapkan pula sumber daya manusia yang menunjang perkembangan ekonomi tersebut.  

 

B. Pusat Pertumbuhan

Sebagai pusat kegiatan Provinsi Lampung, sekitar 12,4% penduduk Provinsi Lampung berada di kota Bandar Lampung. Berbagai pelayanan bagi wilayah yang lebih luas disediakan oleh Kota Bandar Lampung, baik di bidang pemerintahan, niaga, jasa keuangan, pendidikan, dan sebagainya. Peran sebagai pusat pertumbuhan ditunjang oleh rencana peningkatan aksesibilitas dari dan ke Kota Bandar Lampung.

Dalam mewujudkan tercapainya mekanisme sistem pusat pertumbuhan di Provinsi Lampung, telah terdapat tiga jalur lintas Sumatera, yaitu :

  • Jalur Tengah, mulai Pelabuhan Bakauheni – Bandar Lampung – Kotabumi dan selanjutnya ke Muara Enim.
  • Rencana Jalur Lintas  Barat, mulai dari Bandar Lampung – Kota Agung – Liwa dan selanjutnya ke Provinsi Bengkulu.
  • Rencana Jalur Lintas Timur, mulai Pelabuhan Bakauheni – Menggala – Kayu Agung dan seterusnya hingga ke Palembang.

Kesemuanya melintasi Bandar Lampung. Di samping itu, Bandar Lampung siap berfungsi sebagai transhipment point dari berbagai moda angkutan. Hal ini didukung oleh berbagai rencana pengembangan dalam sistem transportasi regional. Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera akan memperlancar aliran pergerakan penumpang dan barang antar pulau Jawa dan Sumatera.

Pelabuhan Panjang melengkapi sistem angkutan antar-moda bagi seluruh Provinsi Lampung dan Sumatera bagian Selatan. Gagasan jaringan kereta api Trans Sumatera menjadi salah satu alternatif sarana pergerakan antar-moda. Adanya rencana pembangunan jaringan jalan tol ke arah Palembang juga akan turut mendukung kelancaran aksesibilitas tersebut.  

Kecenderungan perkembangan menunjukkan proses relokasi kegiatan ekonomi dari Pulau Jawa bagian Barat ke Lampung. Bahkan untuk beberapa sektor ditetapkan kebijaksanaan menjadikan Lampung sebagai basis produksi nasional. Hal ini menjadikan Bandar Lampung potensial sebagai pusat distribusi barang dan jasa untuk wilayah Sumatera bagian Selatan.  

 

C. Pusat Koleksi Dan Distribusi

Dengan lokasi yang strategis secara geografis, ketersediaan akses yang memadai, dan jalur transportasi yang mendukung serta kelengkapan fasilitas penunjangnya, menjadikan kota Bandar Lampung potensial sebagai pusat koleksi dan distribusi berbagai barang dan jasa.

Perkembangan sektor ekonomi, khususnya pertanian di wilayah Provinsi Lampung maupun Sumatera bagian Selatan, mendorong fungsi Bandar Lampung sebagai pusat koleksi dan distribusi berbagai komoditi yang dihasilkan oleh wilayah belakangnya.

Fungsi sebagai pusat koleksi dan distribusi berbagai komoditi yang dihasilkan oleh Sumatera bagia Selatan dilangsungkan oleh rencana pengembangan jaringan jalan told an kereta api, jaringan jalan Trans Sumatera, serta rencana pengembangan Pelabuhan Panjang.

Kelengkapan fasilitas yang tersedia di kota Bandar Lampung juga mendukungnya sebagai pusat koleksi dan distribusi barang dan jasa pada berbagai skala pelayanan.  

 

D. Aksesbilitas yang Semakin Baik

Kecenderungan pergerakan Pulau Jawa-Sumatera yang memberikan indikasi peranan penting kegiatan sosial dan ekonomi keduanya menempatkan Provinsi Lampung pada posisi sentral. Sejak tahun 1996, jumlah arus lalu lintas antara Pulau Jawa dan Sumatera melalui pelabuhan Merak-Bakauheni menunjukkan pertumbuhan yang terus meningkat.

Kota Bandar Lampung sebagai pusat pertumbuhan akan memperoleh pengaruh yang signifikan dari pergerakan tersebut melalui kemungkinan peningkatan investasi di sektor regional, nasional, dan internasional. Bandar Lampung akan menjadi salah satu alternatif pilihan setelah Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

Untuk menampung peningkatan arus pergerakan dan mengatasi persoalan lalu lintas yang selama ini ada, pemerintah telah merencanakan membangun jembatan Selat Sunda untuk menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera.

Mega-proyek ini sangat prospektif karena pertumbuhan aliran penumpang dan barang antar kedua pulau tersebut sangat tinggi, selama hamper satu dekade meningkat hingga 100%. Rencana pembangunan jembatan ini akan memberikan dampak pada peningkatan aksesibilitas dan berlanjut pada peningkatan aliran pergerakan orang dan barang antara Pulau Jawa dan Sumatera.

Pembangunan jembatan Selat Sunda ini akan menggantikan peran transportasi laut yang selama ini dilakukan oleh kapal penyeberangan melalui Pelabuhan Merak-Bakauheni.

Jembatan ini direncanakan memiliki panjang 60 km dan melintasi beberapa pulau kecil di Selat Sunda, antara lain Pulau Panjurit, Pulau Rimau Balak, Pulau Kandang Lunik, dan Pulau Sindu.

Walaupun perspektif waktu pembangunan jembatan Selat Sunda berjangka panjang, namun rencana jembatan tersebut menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam perkembangan Kota Bandar Lampung. Untuk mendukung pergerakan antara Pulau Jawa dan Sumatera direncanakan pembangunan prasarana transportasi darat mencakup jaringan jalan arteri primer, jalan tol dan kereta api.

Jalan tol direncanakan di bagian timur kota Bandar Lampung ke arah Palembang sebagai kelanjutan jalur Jawa – Sumatera. Arteri primer sebagai bagian Trans Sumatera dilengkapi jalur Lintas Barat dan Lintas Timur ke Provinsi Bengkulu dan ke Sumatera Selatan.

Gagasan pembangunan jalur kereta api Trans Sumatera hingga Sumatera Utara akan berada pada sisi pantai Timur. Bandar Lampung sebagai salah satu pusat jaringan pergerakan nasional melengkapi dirinya dengan pembangunan Pelabuhan Panjang yang diarahkan sebagai pelabuhan ekspor-impor dan antar-pulau. Kondisi fisik perairan pelabuhan memungkinkan pengembangan sebagai gerbang internasional.  

 

E. Pengembangan Transhipment Point Akibat Perkembangan Akses

Peran Bandar Lampung sebagai pusat koleksi dan distribusi barang dan jasa didukung oleh Pelabuhan Panjang yang telah diminati oleh berbagai pihak untuk dikembangkan sebagai pelabuhan antar Negara, terutama dalam konteks region Sumatera bagian Selatan.

Peranan yang dituju oleh pelabuhan ini adalah sebagai pelabuhan ekspor bagi komoditi dan produk yang dihasilkan oleh Sumatera bagian Selatan. Pilihan ini mempertimbangkan posisi strategis Pelabuhan Panjang sebagai gerbang lintas dua kawasan ekonomi penting yaitu Sijori (Singapura-Johor-Riau) dan pusat pasar nasional Jakarta dan Jawa Barat bagian Barat, terutama dalam mengisi kerjasama ekonomi regional IMS-GT.

Untuk mendukung peran Pelabuhan Panjang sebagai pintu gerbang ekspor-impor bagi Sumatera bagian Selatan, perlu dibangun berbagai saran dan prasarana penunjang, di antranya adalah pembangunan terminal peti kemas dan curah yang kompetitif terhadap pelabuhan lainnya seperti Tanjung Priok, Bojonegara, dan Palembang serta mendorong pertumbuhan investasi di bidang jasa kargo.